Kembali ke Berita

News

PPI Hiroshima Dorong Peran Mahasiswa sebagai Jembatan Antarbangsa melalui Diplomasi Akademik

Selasa, 21 Juli 2026
RA (setelah disunting)
PPI Hiroshima Dorong Peran Mahasiswa sebagai Jembatan Antarbangsa melalui Diplomasi Akademik
Higashi-Hiroshima, 17 Juli 2026 — Persatuan Pelajar Indonesia Hiroshima (PPI Hiroshima) menyelenggarakan kuliah publik dan sesi berbagi bertajuk “The Power of Academic Diplomacy: Building Global Networks, Creating Real Impact” pada Jumat, 17 Juli 2026, di MIRAI CREA, Kampus Higashi-Hiroshima, Hiroshima University.

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Eng. Ir. Adi Maulana, S.T., M.Phil., IPU, Wakil Rektor Bidang Kemitraan UNHAS (2022 - 2026) yang saat ini menjabat sebagai Executive Director of the Global Research Institute, Hasanuddin University (2026 - 2030), dan juga sedang menjalankan kegiatan akademik sebagai Visiting Professor di Hiroshima University.

Dalam pemaparannya, Prof. Adi Maulana menjelaskan bahwa diplomasi akademik merupakan upaya membangun hubungan antarindividu, institusi, dan negara melalui pendidikan, penelitian, inovasi, pertukaran pengetahuan, serta kolaborasi internasional. Di tengah meningkatnya kompleksitas tantangan global—mulai dari perubahan iklim, transisi energi, ketahanan pangan dan energi, hingga kesenjangan pembangunan—universitas memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan, kebijakan, industri, dan kebutuhan masyarakat.

Menurut Prof. Adi, diplomasi akademik tidak selalu dimulai dari perjanjian formal antarlembaga. Fondasinya justru sering berawal dari hubungan antarmanusia yang dibangun dalam jangka panjang berdasarkan kepercayaan, integritas, rasa saling menghormati, keterbukaan, dan visi bersama.

“Academic diplomacy is not only about building relationships, but about creating meaningful collaborations that change lives and protect our planet,” ujar Prof. Adi.

Hubungan personal dan akademik tersebut selanjutnya dapat berkembang menjadi berbagai bentuk kerja sama, seperti penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, program beasiswa, publikasi ilmiah, pengembangan teknologi, transfer pengetahuan, serta kemitraan institusional yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam sesi tersebut, Prof. Adi juga membagikan berbagai pengalaman kolaborasi internasional yang melibatkan Hasanuddin University, Hiroshima University, perguruan tinggi mitra, pemerintah, industri, dan masyarakat. Salah satu contoh yang disampaikan adalah pengembangan kemitraan antara Hasanuddin University dan perusahaan Jepang, OC Global Co., Ltd., yang dibangun melalui jejaring akademik jangka panjang.

Kemitraan tersebut diarahkan untuk mengembangkan inovasi berkelanjutan dalam menjawab persoalan lingkungan dan energi di Indonesia. Salah satu inisiatifnya adalah pembangunan panel surya untuk pembangkit energi listrik ramah lingkungan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan di pesisir dan pulau-pulau kecil yang memiliki akses listrik terbatas. Energi listrik yang dihasilkan digunakan untuk mendukung cold storage yang dibangun kerjasama dengan industri Jepang untuk menampung hasil tangkapan nelayan.  

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa diplomasi akademik dapat bergerak dari jejaring menuju dampak nyata—from network to real impact. Selain membantu masyarakat untuk mendapat akses listrik murah dan mengurangi emisi gas rumah kaca, teknologi tersebut berpotensi menciptakan nilai ekonomi baru dimana nelayan dapat menjual hasil tangkapannya dengan harga tinggi kepada badan usaha UNHAS, menekan biaya bahan bakar karena tidak perlu jauh ke Kota Makassar, membuka lapangan kerja hijau, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat transfer teknologi dan kapasitas inovasi di Indonesia.

Inisiatif itu juga mendukung sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals, terutama SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau, SDG 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, serta SDG 15 tentang ekosistem daratan.

Prof. Adi menekankan bahwa keberhasilan diplomasi akademik tidak hanya diukur dari jumlah nota kesepahaman atau kegiatan seremonial, tetapi dari sejauh mana suatu kolaborasi menghasilkan pengetahuan baru, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, melahirkan inovasi, memengaruhi kebijakan, dan memberikan solusi bagi masyarakat.

Para mahasiswa Indonesia di Jepang juga diajak untuk mulai menjalankan diplomasi akademik melalui langkah-langkah yang sederhana tetapi konsisten, seperti memperluas wawasan global, menjaga reputasi dan integritas, membangun jejaring lintas disiplin, aktif mencari peluang kolaborasi, meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya, serta menghubungkan keahlian akademik dengan kebutuhan nyata di Indonesia.

Mahasiswa, menurutnya, tidak hanya membawa identitas sebagai individu atau akademisi, tetapi juga merepresentasikan institusi dan Indonesia. Oleh karena itu, setiap interaksi akademik, kegiatan penelitian, forum internasional, maupun hubungan profesional dapat menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan Indonesia–Jepang.

Melalui kegiatan ini, PPI Hiroshima berharap mahasiswa Indonesia tidak hanya berperan sebagai pembelajar di luar negeri, tetapi juga sebagai duta bangsa, penghubung antarbudaya, pembangun kepercayaan, dan penggerak kolaborasi internasional yang dapat memberikan kontribusi bagi institusi, bangsa, dan masyarakat global.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen PPI Hiroshima untuk terus menghadirkan ruang pembelajaran, pengembangan kapasitas, perluasan jejaring, dan kolaborasi yang mendorong mahasiswa Indonesia mengubah gagasan akademik menjadi dampak nyata—from campus to community, from ideas to impact.

Bagikan Artikel Ini: