NEWS
Explore

PPI Hiroshima Gelar Diskusi Kritis bersama Rocky Gerung, Menakar Masa Depan Indonesia di Persimpangan Etika dan Rasionalitas

Oleh : Eko

Higashihiroshima, Jepang — Perhimpunan Pelajar Indonesia Jepang Komisariat Hiroshima (PPI Hiroshima) kembali menghadirkan ruang dialog intelektual melalui gelaran Winter Talk 2025 pada Senin, 1 Desember 2025. Acara ini dihadiri lebih dari 150 diaspora Indonesia di Jepang, mulai dari mahasiswa, akademisi, peneliti, hingga pekerja profesional. Ketua PPI Hiroshima, Reza Abdullah, menyampaikan antusiasme peserta sangat tinggi. “Peserta tidak hanya dari Hiroshima, tetapi juga dari Tokyo, Okayama, Yamaguchi, Kyoto, Yokohama, dan wilayah lain,” ujarnya.

Mengangkat tema “Peran Diaspora Indonesia di Jepang: Dinamika Kebangsaan & Tantangan Kontemporer,” Winter Talk menghadirkan pemikir nasional dan filsuf publik Rocky Gerung sebagai pembicara utama. Banyak peserta menyebut forum ini sebagai momentum langka. Salah satu peserta berkomentar, “Diskusi seperti ini sulit ditemukan di luar negeri—ini kesempatan untuk berpikir bersama.”

Diskusi berlangsung hampir tiga jam dan terbagi menjadi tiga segmen: Identitas Kebangsaan, Generasi Muda dan Indonesia Emas 2045, serta Tantangan Kontemporer dalam Politik dan Etika Teknologi. Membuka pemaparannya, Rocky menyampaikan pandangannya tentang identitas bangsa. “Identitas itu bukan label yang ditempelkan, tetapi proses yang terus dibentuk oleh rasionalitas, memori sejarah, dan keberanian berpikir,” tegasnya. Ia menambahkan, “Bangsa tidak diukur dari harga pasar, tetapi dari akal sehat dan martabatnya.”

Pada segmen kedua, Rocky mengkritisi kesiapan sumber daya manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Ia menyampaikan, “Sepuluh tahun terakhir kita gagal dalam dua hal: demokrasi dan rasionalitas.” Menyinggung meritokrasi politik, ia mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak boleh dibangun berdasarkan kepentingan elektoral semata. “Pemimpin harus melewati tiga filter: etikabilitas dulu, lalu intelektualitas, barulah elektabilitas,” katanya yang disambut tepuk tangan peserta.

Segmen ketiga memperdebatkan isu hukum, otoritarianisme, dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Rocky memperingatkan implikasinya terhadap masa depan kemanusiaan. “Robot bisa menjawab pertanyaan, tapi robot tidak bisa merasakan keadilan,” ujarnya. Ia juga menyoroti perubahan KUHAP terbaru. “Jika proses lahirnya hukum tidak adil, maka hukum itu tidak bisa disebut adil,” tegasnya.

Selama sesi tanya jawab, peserta mengangkat beragam isu mulai dari lingkungan, meritokrasi, tata kelola negara, hingga geopolitik. Rocky menyebut diskusi tersebut sebagai wujud kesadaran kritis diaspora. “Ini bukan sekadar forum, ini community of thought, komunitas yang berpikir, bukan hanya bertepuk tangan,” katanya.

Menutup sesi, Rocky kembali mengingatkan pentingnya keberpihakan pada nalar. “Masa depan bangsa tidak membutuhkan dealer kekuasaan, tetapi leader, pemimpin yang berpikir dengan etika, bukan sentimen,” ucapnya. Sementara itu, Reza Abdullah menyampaikan harapan agar Winter Talk menjadi agenda intelektual tahunan. “Kami ingin forum ini menjadi tradisi berpikir, bukan sekali datang, lalu hilang,” tutupnya.

...

Hubungi Kami

Hubungi kami melalui
Instagram: @ppihiroshima45
Facebook: PPI Hiroshima
Email : ppihiroshima@gmail.com